MEGALITIK DALAM DINAMIKAKE MASYARAKATAN DI PULAU TERNATE (Kajian Fugsi dan Makna Pada Masyarakat Pendukungnya)

Nurachman Iriyanto, Umar Hi Rajab

Sari


Tradisi megalitik merupakan fakta kebudayaan yang hingga kini masih terus
berlangsung dan dipelihara. Tradisi megalitik bukanlah hanya sekedar tentang batu besar,
namun menyangkut kepada “batu-batu” yang mendapat perlakuan tertentu melalui
ritual. Dengan kata lain pada batu tersebut terdapat makna, atau lebih tepatnya diberi
makna oleh manusia yang mendirikan dan melestarikannya. Terdapat nilai-nilai pada
batu-batu megalitik yang dianut secara bersama dan tetap dihormati oleh yang
meyakininya. Sebagai sistem simbol, tradisi ini terus menerus mengalami perubahan
pemaknaan oleh masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara lebih mendalam simbol-simbol
tradisi megalitik di Pulau Ternate-Tidore sebagai salah satu bentuk dari fakta kebudayaan
tersebut di atas. Rentang panjang kolonisasi manusia di kedua pulau ini telah
memunculkan dialektika pemaknaan terhadap tradisi batu-batu besarnya, yang oleh
masyarakat dikenal sebagai Jere. Dari hasil observasi lapangan yang dilakukan, dijumpai
99 (sembilan puluh sembilan) situs Jere di kedua pulau. Situs-situs Jere di kedua pulau
gunung ini memiliki keunikan yang ditunjukkan oleh praktik-praktik spiritual serta
praktik sosial-budaya.
Penelitian ini menggunakan paradigma fenomenologi dengan mengobservasi
kehidupan sosial budaya yang berlangsung serta melihat aktivitas pelaku tradisi
mendefinisikan dunianya. Pendekatan ini digunakan dalam melihat keajegan dan
keselarasan serta efek yang ditimbulkan dari tradisi Jere di kedua pulau pada tatanan
harmoni sosial yang terbangun.
Dari hasil kajian diketahui kuatnya
kerangkaberpikirtentangkeseimbangandankesejahteraan. Bahwa tradisi Jere merupakan
kesadaran individu dan komunitas terhadap apa yang mereka yakini sebagai
pengejawantahan rasa hormat terhadap hidup dan kehidupan. Jere adalah situs
peribadatan di dunia yang bertujuan bagi kebaikan hidup bagi tercapainya keseimbangan
dan kesempurnaan kehidupan. Dapat dikatakan bahwa Jere merupakan religi rakyat yang
melingkupi pemikiran masyarakat di kedua pulau. Situs-situs Jere memberi efek yang
positif bagi kehidupan bersama yang secara ideologis dimaknai sebagai strategi
kehidupan. Dialektika inilah yang juga berusaha untuk dibangun secara berkelanjutan
oleh institusi keraton Ternate Tidore melalui berbagai ritual budaya sosio humanistik.

Teks Lengkap:

34-46

Referensi


Ahimsa-Putra, Heddy Shri, 1997, “Arkeologi Pemukiman: Asal Usul dan

Perkembangannya” dalam Jurnal Humaniora Vol. V Th. 1997, Yogyakarta, Fakultas

Sastra Universitas Gadjah Mada.

Ahimsa-Putra, Heddy Shri, 1999, “Strukturalisme Lévi-Strauss Untuk Arkeologi Semiotik,

dalam Jurnal Humaniora Vol. XI No. Mei-Agustus 1999, Yogyakarta, Fakultas

Sastra Universitas Gadjah Mada.

Ahimsa-Putra, Heddy Shri, 2013, “Budaya Bangsa, Jati Diri dan Integrasi Nasional,

Sebuah Teori”, dalam Jejak Nusantara, Jurnal Sejarah dan Nilai Budaya Edisi Perdana

Tahun I, Jakarta, Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.

Bellwood, Peter, 1979, Man’s Conquest of the Pacific, The Prehistory of Southeast Asia and

Oceania, New York, Oxford University Press.

Firth, Raymond, 1966, Human Types, diindonesiakan oleh B. Mochtan dan S. Puspanegara

Ciri-ciri dan Alam Hidup Manusia, Suatu Pengantar Antropologi Budaya, Bandung,

Penerbit Sumur.

Fraassen, CH. F. van, 1987, Ternate, De Moluken En De Indonesische Archipel, Deel I, II,

Disertasi Universiteit Leiden.

Jacobs, Hubert Th. Th. M., (ed), 1970, A Treatise On The Moluccas, Roma : Jesuit Historical

Institute.

Kaplan, David, dan Robert A. Manners, 2012, Teori Budaya, cet. IV diindonesiakan oleh

Landung Simatupang, Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Leirissa, R.Z., dkk, 1982, Maluku Tengah Di Masa Lampau: Gambaran Sekilas Lewat Arsip

Abad Sembilan Belas, Jakarta, ANRI.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.