PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN TERHADAP LAJU EROSI (STUDI KASUS DAS KALUMATA)

Sivi Kurniati Raja, Zulkarnain K Misbah, Muhammad Rizal

Sari


Penyebab terjadinya lahan kritis pada umumnya akibat adanya erosi pada lahan. Erosi pada dasarnya adalah proses perataan kulit bumi yang meliputi proses penghancuran, pengangkutan, dan pengendapan butir tanah tersebut. sering terjadi erosi yang di akibat atau di buat oleh manusia guna untuk keperluannya sendiri dan tidak memikirkan resiko maupun dampak yang akan terjadi seperti yang terjadi di DAS Kalumata, bisa dilihat dari perubahan waktu proses mulainya kegiatan galian tanah di DAS Kalumata tersebut. Tujuan dari penilitian ini adalah untuk mengetahui laju erosi, debit limpasan permukaan, dan perubahan tata guna lahan priode 15 tahun dari tahun 2001- 2015.
Hasil penilitian ini menunjukan bahwa pada DAS Kalumata yang luasnya 240.56 hayang terbagi atas dua sub DAS dibagian hulu 136,35 ha dan bagian hilir 104,21 ha. dimana setelah perhitungan didapatkan hasil debit pada tahun 2001-2008 sebesar 7,3157 m3/dt sedangakan hasil debit pada tahun 2009-2015 sebesar 7,2811 m3/dt maka
14,5968 m3/dt yang merupakan total debit dari 2 Sub DAS, erosivitas limpasan permukaan yang terjadi pada jalur 1 tepatnya pada tahun 2001-2008 sebesar 2.302,78 m2/jam sedangakan pada tahun 2009-2015 sebesar 2.469,56 m2/jam ada pula yang terjadi pada jalur 2 yang mana telah di dapatkan dari hasil perhitungan dari tahun 2001-2008 sebesar 2.163,56 m2/jam sedangkan yang terjadi pada tahun 2009-2015 sebesar 2.463,01 m2/jam yang totalnya mencapai 9.398,90 m2/jam dan mengakibatkan nilai total laju erosi sebesar 122.329,47 ton/ha/thn dengan rerata laju erosi 849,510 ton/ha/thn . laju erosi tersebut di katakan berat, karena masih dapat mengakibatkan hilangnya kedalaman tanah evektif dan membuat DAS menjadi kritis.

Teks Lengkap:

41-52

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


Flag Counter