LEUKOSIT PRA OPERASI DENGAN TINGKAT KEPARAHAN MORFOLOGI APENDISITIS AKUT DI RUMAH SAKIT KOTA TERNATE
DOI:
https://doi.org/10.33387/kmj.v3i2.3952Abstrak
Apendisitis merupakan kasus bedah emergensi yang paling sering ditemukan dengan pemeriksaan jumlah leukosit menunjukkan peningkatan antara 10.000 sel/μl sampai dengan 15.000 sel/μl. Leukosit melebihi 18.000-20.000 sel/μl menandakan kemungkinan telah terjadi perforasi apendiks. Maka pada penelitian ini ingin mengetahui bagaimana hubungan jumlah leukosit praoperasi dengan tingkat keparahan morfologi apendisitis. Penelitian ini merupakan observasional dengan pendekatan prospektif, rancangan Cross sectional study. Menggunakan data sekunder berupa rekam medis pasien appendisitis akut yang dilakukan appendektomi di RSUD dr. Chasan Boesoirie Ternate dan mitra Rumah Sakit lain di Kota Ternate. Data mengenai usia, jenis kelamin, WBC, dan tingkat keparahan appendisitis akut pasien dikumpulkan dan dianalisa menggunakan uji Chi-square. Hasil uji Chi-square menunjukan hubungan yang signifikan (p=0.001) mengenai jumlah leukosit praoperasi dengan tingkat keparahan morfologi apendisitis. Berdasarkan hasil uji statistik tersebut dapat disimpulkan bahwa jumlah leukositosis berpengaruh pada tingkat keparahan morfologi apendisitis akut.Referensi
Annisa et al. 2018. Hubungan jumlah leukosit pre operasi dengan kejadian komplikasi pasca operasi
apendektomi pada pasien apendisitis perforasi di RSUP dr. M. Djamil Padang. Jurnal Kesehatan
Andalas. p.491-497
Atahan K, Ureyen O, Aslan E, Deniz M, Cokmez A, Gur S, et al. Preoperative Diagnostic Role of
Hyperbilirubinaemia as a Marker of Appendix Perforation. The Journal of International Medical
Research. 2011;39:611-616
Chaudhary P, Kumar A, Saxena N, Biswal UC. Hyperbilirubinemia as a predictor of
gangrenous/perforated appendicitis: a prospective study. Annals of gastroenterology.
;26:326-30.
Daldal E, Dagmura H. The Correlation between Complete Blood Count Parameters and Appendix
Diameter for the Diagnosis of Acute Appendicitis. Healthcare 2020, 8, 39;
doi:10.3390/healthcare8010039
Dinas Kesehatan Kota Ternate. 2019. Profil Kesehatan Kota Ternate.
Gorter R. R. et al. 2016. Diagnosis and management of acute apendisitis . EAES consensus development
conference 2015. Surgical Endoscopy. Springer US, 30(11), pp. 4668–4690. doi:
1007/s00464-016-5245-7.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2009. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Departemen
Kesehatan
Livingston EH, Woodward WA, Sarosi GA, Haley RW. Disconnect Between Incidence of Nonperforated
and Perforated Appendicitis. Annals of Surgery.2007;245(6):887-891
Marisa JHI, Setiawan MR. Batas Angka Lekosit Antara Apendisitis Akut dan Apendisitis Perforasi di
Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang Selama Januari 2009 – Juli 2011. Jurnal
Kedokteran Muhammadiyah. 2012;1(1):3-7
Putra, C.B.N., Suryana, S.N. 2020. Gambaran prediktor perforasi pada penderita apendisitis di Rumah
Sakit Umum Ari Canti Gianyar, Bali, Indonesia tahun 2018. Intisari Sains Medis 11(1): 122-128.
DOI: 10.15562/ism.v11i1.575.
Riwanto I, dkk. 2010. Usus halus, apendiks, kolon, dan anorektum. De Jong W, Sjamsuhidajat R eds.
Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Ketiga. Jakarta: EGC.
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Chasan Boesoirie Ternate. 2018-2019. Profil Apendisitis Akut.
Sack U, Biereder B, Elouahidi T, Bauer K, Keller T, Trobs RB. Diagnostic Value of Blood Inflammatory
Markers for Detection of Acute Appendicitis in Children.BMC Surgery. 2006;6(15):3-8.
Seetahal, et al.2011. Negative appendectomy: a 10 year review of nationally representative sample.
American Journal Surgery. Am J Surg. Apr; 201(4):433-7.
Socea B, Carap A, Rac-Albu M, Constantin V. The Value of Serum Bilirubin Level and of White Blood
Cell Count as Severity Markers for Acute Appendicitis. 2013;108:830-34.
Spirt M. 2010. Apendisitis. NIH Postgraduate Medicine. 122(1), pp. 1–8.
Vasser HM, Anaya DA. 2012. Acute apendicitis. Jong EC, Stevens DL eds. Netter’s infectious disease.
Philadelphia: Saunders Elsevier.
Warsinggih. 2017. Appendisitis Akut. Bahan ajar FK UNHAS
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta :
Penulis yang mempublikasikan naskahnya pada Jurnal ini menyetujui ketentuan berikut:
Hak cipta pada setiap artikel adalah milik penulis.
- Penulis mengakui bahwa KMJ (Kieraha Medical Journal) berhak sebagai yang mempublikasikan pertama kali dengan lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
- Menyetujui untuk menerbitkan artikel yang telah dikirimkan ke KMJ (Kieraha Medical Journal).
- Menyetujui untuk mengalihkan hak cipta (transfer of copryright) artikel ini kepada KMJ (Kieraha Medical Journal).
- Menyetujui untuk mengganti kerugian dan membebaskan KMJ (Kieraha Medical Journal) dari biaya yang mungkin timbul disebabkan oleh pelanggaran pada artikel tersebut.
- Menjamin bahwa Artikel yang dikirimkan adalah asli. Jika Artikel mengandung bagian teks, gambar, atau data yang merupakan karya orang lain, pastikan sudah mendapatkan hak atau ijin dari pemegang hak cipta (pengarang, penerbit, atau organisasi) atau didalam artikel sudah disebutkan referensinya sesuai format pengutipan data.
Lisensi :
KMJ (Kieraha Medical Journal) diterbitkan berdasarkan ketentuan Creative Commons Attribution 4.0 International License. Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menyalin dan menyebarluaskan kembali materi ini dalam bentuk atau format apapun, menggubah, mengubah, dan membuat turunan dari materi ini untuk kepentingan apapun, termasuk kepentingan komersial, selama mereka mencantumkan kredit kepada Penulis atas ciptaan asli.