ANALISIS PERHITUNGAN JUMLAH DAN PENENTUAN LOKASI ALAT PENGUKUR HUJAN DI KOTA BATAM
DOI:
https://doi.org/10.33387/sipilsains.v12i2.5036Abstrak
Di Kota Batam terdata bahwa hanya ada 1 pengukur hujan, yaitu di Bandara Hang Nadim Batam yang dikelola oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Batam. Hal ini tentunya sangat menghambat pekerjaan dari Bidang SDA yang bekerja untuk mengantisipasi banjir di Kota Batam. Kejadian banjir tentunya sebagian besar diakibatkan oleh air hujan yang mencapai kedalam tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa untuk mengantisipasi terjadinya banjir, perlu adanya pengukur hujan yang bisa menjadi alat peringatan dini banjir. Penelitian ini dilakukan untuk mengurangi resiko terjadi kesalahan pada saat pengambilan data hujan dan kerapatan jaringan stasiun hujan dapat terkoreksi dengan baik sehingga kerapatan jaringan stasiun hujan menjadi ideal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif dengan menggunakan data hujan 30 tahun dari stasiun hujan Hang Nadim Batam dan peta DAS Batam dari Balai Wilayah Sungai Batam. Perhitungan menggunakan metode perhitungan kagan. Penelitian ini menghasilkan jumlah alat pengukur hujan yang dibutuhkan Kota Batam adalah sebanyak 31 alat. Penentuan titik lokasi alat pengukur hujan terdiri dari 31 lokasi, yaitu Kantor Kelurahan Baloi Indah, Batu Besar, Belian, Bengkong Laut, Bukit Tempayan. Buliang, Kabil, Lubuk Baja Kota, Mangsang, Patam Lestari, Pulau Buluh, Sadai, Sagulung Kota, Sei Pelungut, Sukajadi, Sungai Binti, Sungai Harapan, Sungai Jodoh, Sungai Langkai, Sungai Panas, Taman Baloi, Tanjung Buntung, Tanjung Pinggir, Tanjung Riau, Tanjung Sengkuang, Tanjung Uncang, Teluk Tering, Tembesi, Tiban Baru, Tiban Indah, dan Tiban Lama.Referensi
P. Pariarta, “Analisis Pola Penempatan Dan Jumlah Stasiun Hujan Berdasarkan Persamaan Kagan Pada Das Keduang Waduk Wonogiri,†J. Ilm. Tek. Sipil, vol. 16, no. 1, pp. 100–106, 2012.
D. S. B. Krisnayanti Wilhelmus; Kedoh, Jacob, “Penggunaan Metode Kagan Untuk Analisis Kerapatan Jaringan Stasiun Hujan Pada Wilayah Sungai (Ws) Wae-Jamal Di Pulau Flores,†J. Tek. Sipil, no. Vol 1, No 3 (2012), pp. 81–94, 2012, [Online]. Available: http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/jurnal-teknik-sipil/article/view/18587/18358.
A. Kurniawan, “Evaluasi Pengukuran Curah Hujan Antara Hasil Pengukuran Permukaan (AWS, HELLMAN, OBS) dan Hasil Estimasi (Citra Satelit =GSMaP) Di Stasiun Klimatologi Mlati Tahun 2018,†J. Geogr. Edukasi dan Lingkung., vol. 4, no. 1, pp. 1–7, 2020, doi: 10.29405/jgel.v4i1.3797.
B. Triatmodjo, Hidrologi Terapan, 5th ed. Yogyakarta: Beta Offset, 2015.
A. Petonengan, J. S. F. Sumarauw, and E. M. Wuisan, “Pola Distribusi Hujan Jam-Jaman Di Das Tondano Bagian Hulu,†J. Sipil Statik Januari, vol. 4, no. 1, pp. 21–28, 2016.
V. Dermawan, A. azis Hoesein, and W. Firmansyah, “Analisa Metode Kagan-Rodda terhadap Analisa Hujan Rata-Rata dalam Menentukan Debit Banjir Rancangan dan Pola Sebaran Stasiun Hujan di Sub DAS Amprong,†J. Pengair. UB, pp. 8–14, 2001.
Sri Harto, Hidrologi: Teori Masalah Penyelesaian. Yogyakarta: Nafiri Offset, 2009.
D. PU, Survei Penempatan dan Pembangunan Pos Hidrologi, no. 20. Indonesia, 2009, pp. 1–25.
R. Renaldhy, I. Wayan Yasa, and E. Setiawan, “Evaluasi Rasionalisasi Stasiun Hujan Metode Kagan Rodda dengan Mempertimbangkan Kriteria Penentuan Lokasi Pembangunan Stasiun Hujan,†J. Tek. Pengair., vol. 12, no. 1, pp. 49–60, 2021, doi: 10.21776/ub.pengairan.2021.012.01.05.
M. H. Imaaduddiin, S. K. Aziz, H. Wahyudi, E. Sumirman, and T. Adiningtyas, “Penggunaan Metode Kagan-Rodda Untuk Mengevaluasi Kerapatan Jaringan Stasiun Hujan di DAS Ngrowo Pada Aliran Kali Brantas,†Apl. Tek. Sipil, vol. 20, pp. 235–242, 2022.
BMKG, “Data Online Pusat Database - BMKG,†Pusat Database, 2022. https://dataonline.bmkg.go.id/.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Pemberitahuan Hak Cipta- Penulis menyerahkan hak cipta eksklusif atas karya mereka kepada jurnal.
- Jurnal memiliki wewenang penuh untuk mempublikasikan, mereproduksi, dan mendistribusikan karya tersebut.
- Opsi ini memberikan jurnal fleksibilitas yang lebih besar dalam mempromosikan dan melestarikan karya.
- Penulis mempertahankan hak cipta atas karya mereka, tetapi memberikan izin kepada orang lain untuk menggunakan karya tersebut dengan syarat tertentu.
- Lisensi Creative Commons menawarkan berbagai jenis lisensi dengan tingkat restriksi yang berbeda-beda, seperti CC BY (Atribusi), CC BY-SA (Atribusi-ShareAlike), CC BY-NC (Atribusi-NonKomersial), dan sebagainya.
- Opsi ini memungkinkan distribusi yang lebih luas dari karya, terutama untuk tujuan non-komersial.