Aplikasi Elektrokoagulasi Berulang Pada Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu di Kota Bogor
DOI:
https://doi.org/10.33387/jpku.v6i1.11431Abstrak
Abstrak
Berkembanganya industri tahu meningkatkan jumlah limbah cair yang berpotensi menurunkan kualitas perairan jika dibuang tanpa pengolahan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pengulangan pada proses elektrokoagulasi dalam menurunkan kadar pencemar hingga memenuhi baku mutu sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2014 Lampiran XVIII tentang Baku Mutu Air Limbah Pengolahan Kedelai. Air limbah tahu akan dilakukan elektrokoagulasi berulang dengan variasi tegangan (20V dan 30V), jarak plat elektroda 4 cm, dan variasi waktu (15, 30, 45, dan 60 menit). Air limbah tahu sebelumnya akan dilakukan karakteristik awal dan akhir setelah proses elektrokoagulasi. Tegangan dan waktu kontak terbaik yang dicapai pada penelitian ini yaitu pada tegangan 20 V selama 60 menit pada tahap pengolahan kedua. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya penurunan nilai COD, TSS dan DHL sedangkan nilai DO dan pH mengalami kenaikan. Pada penelitian ini nilai TSS sudah memenuhi baku mutu walaupun untuk parameter pH dan COD masih belum memenuhi baku mutu namun memberikan hasil yang menunjukkan bahwa kualitas air limbah semakin baik.
kata kunci: Limbah Cair Tahu, Elektrokoagulasi Berulang, TSS
Abstract
The development of the tofu industry has increased the volume of liquid waste, which has the potential to degrade water quality if discharged without treatment. This study aims to determine the effect of repeated electrocoagulation processes in reducing pollutant concentrations to meet the quality standards stipulated in the Regulation of the Minister of Environment Number 5 of 2014, Appendix XVIII, concerning Wastewater Quality Standards for Soybean Processing Activities.
Tofu wastewater was treated using repeated electrocoagulation with variations in voltage (20 V and 30 V), electrode plate spacing of 4 cm, and contact time variations (15, 30, 45, and 60 minutes). Initial and final characteristics of the tofu wastewater were analyzed before and after the electrocoagulation process. The optimal voltage and contact time achieved in this study were 20 V for 60 minutes during the second treatment stage. This condition resulted in reductions in COD, TSS, and electrical conductivity (EC), while DO and pH values increased. In this study, the TSS value met the applicable quality standards; although the pH and COD parameters had not yet met the standards, the results indicate an overall improvement in wastewater quality
keyword: Tofu Wastewater, Repeated Electrocoagulation, TSS
Unduhan
Referensi
Anggoroningtyas, A. K. (2023). Efektivitas dan Efisiensi Penurunan Kadar COD dan TSS dalam Limbah Cair Industri Tahu Secara Elektrokoagulasi [Skripsi]. Universitas Pakuan.
Hayadi, N. S., Endro, I., Ms, S., Sumiyati, S., & Msi, S. T. (2011). Analisis Penyisihan Kadar COD, BOD dan TSS Pada Limbah Tahu Menggunakan Alat Elektrokoagulasi (Studi Kasus: Limbah Cair Industri Tahu Ringintelu Kelurahan Kalipancur Semarang).
Hudha, M., Jimmy, & Muyassaroh. (2014). Studi Penurunan COD dan TSS Limbah Cair Industri Tahu menggunakan Proses Elektrokimia.
Ningrum, S. O. (2018). Analisis Kualitas Badan Air dan Kualitas Air Sumur di Sekitar Pabrik Gula Rejo Agung Baru Kota Madiun. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 10(1), 1–12.
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2014 Lampiran XVIII tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pengolahan Kedelai (2014).
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 Lampiran VI tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (2021).
Pramesti, N. A. (2020). Optimasi Laju Alir dan Voltase dalam Elektrokoagulasi Sistem Kontinyu untuk Pengolahan Limbah Tekstil [Skripsi]. Universitas Pakuan.
Saputra, A. I. (2018). Penurunan TSS Air Limbah Laboratorium Rumah Sakit Menggunakan Metode Elektrokoagulasi. JNPH, 6(2), 6–13.
SNI 6989.1:2019 Air dan Air Limbah – Bagian 1: Cara Uji Daya Hantar Listrik (DHL) (2019).
SNI 6989.2:2019 Air dan Air Limbah - Bagian 2: Cara Uji Kebutuhan Oksigen Kimiawi (Chemical Oxygen Demand/COD) dengan Refluks Tertutup Secara Spektrofotometri (2019).
SNI 6989.3:2019 Air dan Air Limbah – Bagian 3: Cara Uji Padatan Tersuspensi Total (Total Suspended Solids/TSS) Secara Gravimetri (2019).
SNI 6989.11:2019 Air dan Air Limbah – Bagian 11: Cara Uji Derajat Keasaman (pH) dengan Menggunakan pH Meter (2019).
Sutanto, & Artanti, K. (2019). Pengolahan Limbah Cair Kosmetik Secara Elektrokoagulasi Sistem Batch. Ekologia : Jurnal Ilmiah Ilmu Dasar dan Lingkungan Hidup, 19(2), 44–54. https://journal.unpak.ac.id/index.php/ekologia
Vinod. K.G., & Imran Ali. (2012). Enviromental Water: Advances in Treatment, Remediation, and Recycling. Elsevier.
Yulianto, A., Hakim, L., Purwaningsih, I., & Pravitasari, V. A. (2009). Pengolahan Limbah Cair Industri Batik pada Skala Laboratorium dengan Menggunkan Metode Elektrokoagulasi. 5(1), 6–11.
Yunitasari, Y., Elystia, S., Andesgur, I., Program, M., Lingkungan, S. T., Dosen,), Lingkungan, T., Pengendalian, L., Pencegahan, D., & Lingkungan, P. (2017). Metode Elektrokoagulasi untuk Mengolah Limbah Cair Batik di Unit Kegiatan Masyarakat Rumah Batik Andalan PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Jom F TEKNIK, 4(1), 1–9.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Muhammad Fathurrahman

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.