KAJIAN ETNOBOTANI DAN KONSERVASI CENGKIH AFO DI TERNATE
DOI:
https://doi.org/10.33387/tjp.v8i2.1385Kata Kunci:
Etnobotani, Konservasi, Cengkeh Afo, TernateAbstrak
Cengkih memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan sebagai pusat budaya dan wisata sejarah di Kota Ternate. Keberadaan cengkeh afo II sebagai cengkih tertua di dunia merupakan saksi bisu sejarah rempah Indonesia. Memanfaatkan, mempelajari, dan menyelamatkan Cengkeh Afo merupakan upaya-upaya dalam strategi konservasi (Wilson 1992). Tujuan penelitian ini yaitu (1) Identifikasi aspek etnobotani cengkeh afo pada masyarakat Desa Tongole, dan (2) identifikasi aspek konservasi cengkeh afo terutama kondisi habitatnya di alam. Penelitian dilaksanakan di Desa Tongole Kelurahan Marikurubu pada Agustus-September 2019. Metode yang digunakan yaitu wawancara dan inventarisasi vegetasi. Data hasil wawancara yang diperoleh dianalisis dengan cara melakukan peringkasan data, penggolongan, penyederhanaan, penelusuran dan pengaitan antar tema. Selanjutnya data yang telah diperoleh disajikan secara deskriptif. Hasil inventarisasi vegetasi dianalisis menggunakan Indeks Nilai Penting dan Indeks keanekaragaman dan Kemerataan (Shannon-Wiener). Berdasarkan hasil pengukuran di lokasi penelitian, Masyarakat Desa Tongole memanfaatkan cengkih Afo sebagai penyedap rasa alami dan tumbuhan obat. Terdapat 11 kategori pemanfaatan tumbuhan berguna oleh masyarakat Desa Tongole, dan Cengkih Afo III memiliki nilai uji pohon plus sebesar 72%.
ÂÂ
Kata kunci; Etnobotani, Konservasi, Cengkeh Afo, Ternate
Referensi
Backer CA, Brink BVD. 1963. Flora of Java (Spermatophytes Only) Vol. I. Wolters-Noordhoff N.V. Goninger. Netherlands.
Desmukh I. 1992. Ekologi dan Biologi Tropika. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Fakhrozi I. 2009. Etnobotani masyarakat Suku Melayu Tradisional di Sekitar Taman Nasional Bukit Tigapuluh [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Hadad EAM, Herman M, Sukur M, Defina, Yuniati N. 2007. Blok Penghasil Tinggi Cengkeh Afo II Sebagai Sumber Benih di Ternate Maluku Utara. Hlm. 270-278. Prosiding Seminar Nasional Rempah, 21 Agustus 2007. Pusat penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Bogor.
Hidayat S. 2009. Etnobotani masyarakat Kampung Adat Dukuh di Garut, Jawa Barat [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Kusmana C. 1997. Metode Survey Vegetasi. Bogor: IPB Pr.
Magurran AE. 2004. Measuring Biological Diversity. Oxford: Blackwell.
Odum EP. 1958. Fundamental of Ecology 2nd Edition. Philadelphia : Saunders Pr.
Purwanto Y, Waluyo EB. 1992. Etnobotani Suku Dani di Lembah BAliem: Tinjauan terhadap Pengetahuan dan pemanfaatan Sumberdaya Tumbuhan. Di Dalam Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Etnobotani I. Cisarua, Bogor.
Rukka, EAW. 2010. Cengkeh (Syzigium aromaticum). http://management01.wordpress. com/2010/10/29/mengenaltanaman cengkeh. [17 Maret 2019].
Sudarmadji. 2002. Pentingnya Pemberdayaan Masyarakat Dalam Upaya Konservasi Sumberdaya Alam Hayati di Era Pelaksanaan Otonomi Daerah. Ilmu Dasar 3:50-55.
Wilson EO. 1992. The strategy for biodiversity conscervation. Dalam: Global biodiversity strategy (WRI, IUCN, UNEPP. Pp. 19-36.
Unduhan
File Tambahan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Syarat yang harus dipenuhi oleh Penulis sebagai berikut:
- Penulis menyimpan hak cipta dan memberikan jurnal hak penerbitan pertama naskah secara simultan dengan lisensi di bawah Creative Commons Attribution License yang mengizinkan orang lain untuk berbagi pekerjaan dengan sebuah pernyataan kepenulisan pekerjaan dan penerbitan awal di jurnal ini.
- Penulis bisa memasukkan ke dalam penyusunan kontraktual tambahan terpisah untuk distribusi non ekslusif versi kaya terbitan jurnal (contoh: mempostingnya ke repositori institusional atau menerbitkannya dalam sebuah buku), dengan pengakuan penerbitan awalnya di jurnal ini.
- Penulis diizinkan dan didorong untuk mem-posting karya mereka online (contoh: di repositori institusional atau di website mereka) sebelum dan selama proses penyerahan, karena dapat mengarahkan ke pertukaran produktif, seperti halnya sitiran yang lebih awal dan lebih hebat dari karya yang diterbitkan.